bismillah,
.
Untuk yang kesekian kalinya,
Kami mengajak Umat islam untuk mendo'akan kebaikan bagi pemimpin muslim kita.
.
Wallaahi,
ngga salah antum mendo'akan kebaikan. Sesungguhnya yang salah dan aneh itu ialah ketika antum menginginkan seorang pemimpin yang baik namun antum enggan berdo'a dan mendo'akan kebaikan baginya.
.
Dari Abu Darda' رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya) :
"Barangsiapa yang mendo'akan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya (secara diam-diam), melainkan malaikat akan berkata,
'Aamiin dan bagimu juga kebaikan yang sama.'"
(Shahiih, HR. Muslim, no. 2732, 4912, dan Abu Dawud, no. 1534)
.
Dalam lafazh lain disebutkan :
Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya),
"Do'a seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah do'a mustajabah.
Di atas kepalanya (orang yang berdo'a) ada malaikat yang diutus. Sehingga setiap kali dia mendo'akan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan,
'Aamiin dan engkau pun akan mendapatkan apa yang ia dapatkan.'"
(Shahiih, HR. Muslim, IV/2094, no. 2733 [88], dan Ibnu Majah, no. 2895)
.
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin 'Aus ad-Daari رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya),
"Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat."
Para Shahabat bertanya,
"Untuk siapa, wahai Rasulullah?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan imam kaum muslimin (para penguasa kaum muslimin), dan bagi kaum muslimin pada umumnya."
(Shahiih, HR. Muslim, I/74, no. 55 [95], Ahmad, IV/102 - 103, Abu Dawud, no. 4944, an-Nasaa-i, VII/156 - 157, al-Humaidi, no. 837, Ibnu Hibbaan, no. 4555, al-Baihaqi, VIII/163, ath-Thabrani, no. 1260 - 1268, dan al-Baghawi, XIII/93, no. 3514)
.
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Adapun nasihat kepada imam-imam (pemimpin) kaum muslimin adalah dengan mencintai keshalihan, petunjuk, keadilan mereka, menginginkan agar ummat berkumpul (bersatu) di atas mereka, membenci perpecahan ummat atas mereka, beragama dengan ketaatan kepada mereka dalam ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالىٰ, mencintai kemuliaan mereka pada ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالىٰ, mencintai kemuliaan mereka pada ketaatan kepada Allah تبارك وتعالىٰ, menolong mereka di atas al-haq (kebenaran), mentaati mereka dalam al-haq (kebenaran) mengingatkan mereka, memperhatikan mereka dengan lemah lembut dan halus serta menjauhi untuk menguasai mereka dan mendo'akan mereka agar mendapatkan hidayah dan taufiq."
(Jaami'ul Ulum wal Hikam, hal. 79)
.
Al-Fudhail bin Iyadh رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Seandainya aku memiliki sebuah do'a yang baik dan mustajab, niscaya akan aku tujukan bagi para penguasa."
Kemudian beliau رحمه الله تعالىٰ ditanya,
"Wahai Abu 'Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?"
Beliau رحمه الله تعالىٰ menjawab,
"Apabila do'a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada para penguasa dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya."
.
Beliau رحمه الله تعالىٰ melanjutkan,
"Kita diperintahkan untuk mendo'akan mereka dengan kebaikan bukan keburukan meskipun ia seorang penguasa atau pemimpin yang zhalim dan suka bertindak semena-mena sekalipun.
Sebab, akibat dari kezhaliman dan tindakan semena-mena mereka akan menimpa mereka sendiri. Sementara kebaikan mereka akan kembali dan bermanfaat bagi diri mereka dan kaum muslimin."
(Diriwayatkan oleh Al-Barbahariy di dalam Syarhus Sunnah, hal. 116 - 117, no. 136, dan Abu Nu'aim di dalam Al-Hilyah, VIII/91 - 92)
.
Bahkan mendo'akan kebaikan agar pemimpin tersebut mendapatkan hidayah dan taufiq merupakan ciri dari seorang Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Imam Abu 'Utsman Ash-Shabuni رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Ahlus Sunnah menganjurkan untuk mendo'akan penguasa agar mereka mampu melakukan perbaikan, mendapatkan taufiq dari Allah تبارك وتعالىٰ, keshalihan, serta menebarkan keadilan kepada rakyat."
('Aqidah As-Salaf Ash-habul Hadits, hal. 106)
.
Imam Ath-Thahawi رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Kami tidak berpendapat bolehnya memberontak terhadap para pemimpin dan penguasa, sekalipun mereka telah berbuat zhalim. Kami juga tidak mendo'akan keburukan atas mereka ataupun membatalkan janji untuk taat kepada mereka. Menurut Kami, ketaatan kepada pemimpin hukumnya wajib karena ia termasuk salah satu bentuk ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالىٰ, yakni selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Dan, kami tetap mendo'akan agar mereka diberikan kebaikan dan keselamatan."
(Al-'Aqiidah ath-Thahaawiyyah, hal. 540)
.
Asy-Syaikh 'Abdul Aziz bin Baaz رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Mendo'akan penguasa termasuk sebesar-besarnya ibadah, seutama-utamanya ketaatan, nasihat (ibadah) kepada Allah تبارك وتعالىٰ dan nasihat bagi hamba-hamba-Nya."
(Majmuu' Al-Fataawaa, VIII/210)
.
Mari kita do'akan pemimpin kita dengan kebaikan agar diberikan hidayah dan taufiq.
Semoga Allah تبارك وتعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.
.
Di nukil dari tulisan
Akh Abu Aisyah Aziz Arief
.
Diantara ciri Ahli Sunnah adalah mendo'a kan kebaikan untuk Pemimpinnya..
Adapun ciri Ahli Bid'ah adalah mendo'akan keburukan bagi pemimpin negeri ini...

No comments:
Post a Comment