Sunday, 4 December 2016

10 Alasan Seorang Muslim Harus Kaya

10 Alasan Seorang Muslim Harus Kaya

Seorang muslim selain kaya dengan ilmu juga harus kaya harta. Anggapan yang salah ketika berpikir bahwa seorang muslim harus hidup dengan sederhana dan pas-pas an. Juga salah jika berpikir bahwa kaya ilmu lebih baik daripada kaya harta. Kaya ilmu dan harta harus seimbang.Mengapa kita sebagai muslim, selain kaya ilmu juga harus kaya harta.

Berikut adalah alasan-alasan mengapa seorang muslim harus kaya harta.

1. Dengan kekayaan tubuh akan menjadi tegak. Artinya dengan kekayaan, kita mempunyai nilai lebih dimata masyarakat. Kita bisa mandiri berdiri diatas kaki sendiri. Tidak meminta belas kasihan dari orang lain. Dengan kekayaan, kita bisa memberi. Ingat tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah, member lebih baik daripada menerima.

2. Peredaran uang adalah indikator dari kesholehan atau keburukan masyarakat. Artinya, jika peredaran uang dikendalikan oleh muslim yang baik maka masyarakat akan baik juga. Sebaliknya, jika perederan dikuasai oleh orang jahat maka masyarakatpun akan menjadi buruk. Itulah alasan kenapa kita harus kaya dan menguasai peredaran uang di masyarakat.

3. Banyak perintah syariat yang harus dilakukan dengan menggunakan uang. 2 dari 5 rukun Islam, zakat dan haji, harus dilaksanakan dengan menggunakan uang. Perintah syariat lain seperti jihad pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pun dalam kegiatan dakwah, membutuhkan biaya yang sangat banyak. Kita lihat contoh dari Rasululloh SAW, yang menggunakan seluruh hartanya untuk membiayai dakwahnya. Bagaimana Khadijah yang meninfakkan seluruh hartanya untuk kegiatan dakwah. Bayangkan jika Rasululloh dan Khadijah tidak memilki harta. Darimana mereka akan membiayai dakwah ini.

4. Harta adalah sesuatu yang dibanggakan oleh manusia karena dengan harta menunjukkan strata sosialnya di dalam masyarakat. Orang dengan harta yang banyak tentu akan memiliki status sosial yang tinggi, kata-katanya didengar dan perintahnya dilaksanakan.

5. Kekayaan membuat manusia bahagia di dunia. Jangan salah berpikir jika kita tidak boleh kaya di dunia untuk mendapatkan kekayaan di akhirat. Menurut Rasululloh, 3 hal yang membuat manusia bahagia adalah: Istri/suami yang sholeh/sholehah, rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman. 2 dari 3-rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman, indikator kebahagian seorang manusia terlaksana hanya dengan kekayaan.

6. Menuntut ilmu. Untuk menuntut ilmu kita membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

7. Menafkahi keluarga dan mencukupkan ahli waris. Pikiran yang salah jika kita hanya memasrahkan keluarga kita pada Allah semata tanpa adanya ikhtiar.

8. Menegakkan ekonomi syariah. Sampai saat ini ekonomi syariah masih sulit berkembang karena belum banyak penanam modal muslim yang menanamkan modalnya di ekonomi syariah. Itulah sebabnya mengapa kita harus kaya. Salah satunya untuk mengembangkan ekonomi berbasis syariah.

9. Membangun sarana umat. Tanpa uang bagaimana kita akan membangun masjid. Bagaimana kita membangun mall atau pasar yang islami.

10. Meningkatkan bargaining position umat Islam. Sekarang umat Islam masih dianggap sebelah mata karena sebagian besar Negara dengan umat muslim yang banyak masih digolongkan Negara miskin atau berkembang.

Itulah mengapa kita sebagai umat Islam harus kaya dengan harta. Jangan takut dengan menjadi kaya. Karena dengan harta yang banyak kita bisa menyebarkan kebaikan seluas-luasnya. Ingat, kebanyakan dari sahabat Rasululloh adalah orang-orang dengan harta yang melimpah. 9 dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga adalah para pedagang dengan kekayaan yang melimpah. Ingat, bagaimana Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, begitupun Umar bin Khatab. Ustman bin Affan pun sahabat yang dikenal karena kekayaannya. Begitu juga Abdurahman bin Auf. Jadi, seorang muslim, selain kaya dengan ilmu juga kaya dengan harta. Wallahu’alam…

KETIKA ALLAH MENGABULKAN DO’A HAMBANYA



Di sore hari yang indah, saat kami berdua menikmati secangkir teh sambil bersenda gurau dan berdiskusi ringan, tercetus sebuah keinginan yang aku ungkapkan kepada suamiku…

“Pi… sebagai tanda syukur kita pada Allah atas semua kemudahan, anugerah, rizki dan karunia-Nya, Papi setuju ngga kalo kita ambil anak asuh? tapi anak yatim gitu Pi, sekalian buat nemenin anak-anak kita main, mudah-mudahan keimanan kita menjadi bertambah dan kita semakin dekat sama Allah…”
Suamiku hanya tersenyum dan berkata, “Mudah-mudahan keinginan Mami dikabulkan oleh Allah…”

Mungkin saat kami berbicara waktu itu, ada Malaikat yang mencatat dan mengaminkan keinginanku dan menaikkan doa ku tersebut kepada Allah, lalu Allah mengabulkan keinginanku tersebut. Namun apakah dengan semudah itu Allah dengan begitu saja langsung mengabulkan keinginanku?

Inilah bentuk terkabulnya keinginanku…

Setelah percakapan tersebut, kami menghubungi beberapa Panti Asuhan, namun kami tidak menemukan anak yang cocok untuk kami angkat, hingga sebulan kemudian suamiku jatuh sakit secara mendadak, tensinya tiba-tiba melonjak tinggi dan terjadi perpecahan pembuluh darah di otaknya.

Hanya enam hari suamiku dirawat di ICU lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir dan kembali kepada Penciptanya. Sungguh peristiwa yang terjadi di luar dugaanku dan sangat tiba-tiba.

Aku belum siap untuk menghadapi kejadian ini, memang aku mengucapkan innalillahi wa’inaillaihi rojiun, Yaa, semua makhluk di dunia ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Namun aku tetap tidak dapat membendung kesedihan yang aku rasakan.

Aku menangis dan menangis hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku harus mengikhlaskan kepergian suamiku menghadap Illahi. Karena suamiku adalah milik Allah, dan aku hanya dititipkan sementara oleh Allah untuk membahagiakannya.

Perlahan aku berkata pada jasad suamiku, “Papi… Mami ikhlas Papi pergi menghadap Allah… atas seizin Allah kita bertemu, dan atas ridha-Nya pula Allah mempertemukan kita… dan sekarang… atas Kehendak Allah pula kita berpisah, Mohon maaf atas semua kesalahan Mami ya Pi, insya Allah Mami kuat dan sabar dalam menghadapi ini semua, dan Semoga Allah memberi kemudahan, kekuatan dan kesabaran untuk Mami dalam merawat, mendidik dan memelihara anak-anak kita, Papi yang tenang dan bahagia ya bersama Allah…”

Lalu aku mencium tangannya dan kedua pipinya… seperti biasa aku lakukan bila aku pamit untuk pergi bekerja atau suamiku pamit untuk pergi tanpa diriku. Entah kekuatan dari mana hingga aku dapat melakukan semua itu dengan tenang. Namun setelah keluar dari ruang ICU, setelah aku menenangkan tangisan anakku, aku kembali jatuh pingsan.

Sesampainya di rumah, aku sudah tidak mampu lagi untuk menangis, aku hanya mampu menatap jasad suamiku dan berharap ada keajaiban dari Allah sehingga suamiku bisa hidup kembali, dan terkadang aku berharap bahwa yang aku lihat bukanlah jasad suamiku…

Hatiku terlalu hancur untuk bisa menangis, dan aku merasakan kesedihan yang sangat menyakitkan, kehilangan belahan jiwa, seorang suami yang baik dan penyayang yang sangat menyayangi dan mencintai keluarganya. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku aku akan ditinggal pergi oleh suamiku secepat ini. Kutatap wajah kedua anak-anakku yang masih kecil-kecil, terpancar kesedihan yang sangat mendalam di sela-sela isak tangis mereka.

Hari-hari kulalui tanpa semangat, seolah-olah separuh jiwaku ikut pergi bersama suamiku. Entah mengapa selama setahun lebih aku pun selalu berpakaian menggunakan warna hitam atau warna gelap lainnya dan aku pun tidak lagi bertabaruj (berhias diri) walau hanya menggunakan bedak tipis, itupun tidak lagi aku lakukan.

Dan aku lebih sering menyendiri serta melamun, hingga aku ditegur oleh atasanku. Beliau menegurku karena aku sesungguhnya sudah melewati masa berkabung, namun aku masih terlihat terus dalam suasana berkabung.

Hampir setiap malam kulalui dengan shalat Tahajud, memohon ampun dan meminta kekuatan kepada Allah, hanya kepada Allah aku curahkan seluruh perasaanku, kesedihanku, kekhawatiranku.

Deraian air mata tercurah di atas sajadahku dan menjadi saksi atas kesedihan dan keluh kesahku kepada Allah. Menjadi saksi atas penyerahan seluruh hidupku dan masalahku kepada Allah. Kuakui kalau sesungguhnya aku merasa tidak kuat dan lemah dalam menerima ujian ini, namun kukembalikan semua ya hanya kepada Allah.

Empat tahun sudah kulewati waktu tanpa suami tercinta, tanpa kekasih belahan jiwa. Kini anak-anakku sudah beranjak remaja, dan aku bersyukur mereka menjadi anak-anak yang shalih dan berakhlak sangat baik. Di setiap shalatku, kunaikkan sejumlah doa untuk suamiku dan anak anakku, dan aku yakin suamiku berbahagia di sana karena setiap shalat mendapatkan kiriman doa dari istri dan anak anaknya.

Kini baru kusadari bahwa, sesungguhnya setiap ucapan adalah doa dan Allah sudah mengabulkan doa serta keinginanku, namun Allah mengabulkan doaku tersebut tidak sama dengan bentuk yang kita harapkan, tidak dalam bungkus yang indah.

Ternyata membutuhkan kesabaran, keikhlasan, kesungguhan dan kekuatan serta tawakal dalam membuka bungkus tersebut. Serta membutuhkan doa dan hubungan yang terus menerus dengan Allah.

Dan Subhanallah…
ternyata bungkus tersebut memiliki hadiah yang sangat indah, di dalamnya berisi dua orang anak yatim yang shalih yang menjadi penyejuk bagi jiwaku, mataku dan hatiku. Anak-anak yang menjadi Quratu ‘Ain bagiku… Ya, keinginanku untuk memelihara anak-anak yatim dikabulkan oleh Allah, dan ternyata… anak anak yatim itu adalah anak-anak kandungku sendiri.

Kedua anakku tersebut memiliki akhlak yang sangat baik, Saat tadarus bersama, bahkan si sulung sudah dapat mengoreksi bacaan Al-Quran ku dan adiknya, setiap shalat berjamaah, si Aa begitu kami biasa memanggilnya selalu menjadi imam di rumah kami, dan adiknya si Dede yang akan membacakan doa setelah selesai Shalat.

Kami biasa berdiskusi bersama dan melakukan kegiatan bersama sama. Subhanallah walhamdulillah… kami tidak merasa sendiri lagi di dunia ini, kami dapat merasakan cinta dan kasih sayang Allah kepada kami melalui orang-orang yang menyayangi kami. Allah selalu menolong setiap ada masalah yang menimpa kami, Allah memberkahi kehidupan kami dan mencukupi semua kebutuhan kami, Allah menjaga dan memelihara kami. Namun yang paling utama adalah, kami dapat merasakan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah dan kami merasa dekat dengan Allah. Tidak ada lagi kesepian dan kesedihan karena Allah selalu bersama kami.

Dengan kejadian ini ada hikmah yang aku ambil, bahwa Allah sangat menyayangi dan mencintai semua hamba hamba-Nya. Allah akan mengabulkan semua doa dan permohonan hambaNya walaupun dalam bentuk yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan mungkin saja Allah akan menyimpan doa kita di akhirat nanti untuk kebaikan kita.

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mu’min:60)
Jangan pernah berprasangka buruk pada Allah, “Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Turmudzi)



BEKERJA DALAM ISLAM



Oleh : Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Islam memandang bahwa bekerja merupakan satu kewajiban bagi setiap insan. Karena dengan bekerja, seseorang akan memperoleh penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan juga keluarganya serta dapat memberikan maslahat bagi masyarakat di sekitarnya.

Oleh karenanya Islam bahkan mengkategorikan bekerja sebagai ibadah, yang diperintahkan oleh Allah SWT :

“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".

Selain sebagai satu kewajiban, Islam juga memberikan penghargaan yang sangat mulia bagi para pemeluknya yang dengan ikhlas bekerja mengharapkan keridhaan Allah SWT. Penghargaan tersebut adalah sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits berikut :

• Akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT

مَنْ أَمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ رواه الطبراني

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VII/ 289)

• Dihapuskan dosa-dosa tertentu yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa dan shadaqah.

إِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ لَذُنُوْبًا، لاَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاةُ وَلاَ الصِّياَمُ وَلاَ الْحَجُ وَلاَ الْعُمْرَةُ، قَالَ وَمَا تُكَفِّرُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ الْهُمُوْمُ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ رواه الطبراني

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, haji dan juga umrah." Sahabat bertanya, "Apa yang bisa menghapuskannya wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Semangat dalam mencari rizki". (HR. Thabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath I/38)

• Mendapatkan cinta Allah SWT

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ رواه الطبراني

Dari Ibnu Umar ra bersabda, 'Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu'min yang bekerja dengan giat". (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Aushth VII/380) :

• Terhindar dari azab neraka

Dalam sebuah riwayat dikemukakan, "Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, 'Kenapa tanganmu?' Saad menjawab, 'Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku." Kemudian Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, 'Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka'" (HR. Tabrani)

• Bekerja mencari nafkah digolongkan dalam fi sabililah

Dari Ka'ab bin Umrah berkata, "Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. Orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkata, 'Ya Rasulullah, andaikata bekerja seperti dia dapat digolongkan fi sabilillah, alangkah baiknya.' Lalu Rasulullah bersabda, 'Jika ia bekerja untuk mengidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; Jika ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; dan jika ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fi sabilillah... (HR. Thabrani)

Riwayat-riwayat di atas sudah lebih dari cukup bagi seorang mu'min untuk menjadi motivator dalam bekerja,. Oleh karenanya seorang muslim yang baik adalah yang bekerja dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Karena selain mendapatkan penghasilan untuk kehidupan dunianya, ia juga mendapatkan beribu kebaikan untuk kehidupannya di akhirat kelak.